Alismu

Aku menyulam kecintaan pada alismu yang hitam rapi
Membuat rumah, dan berteduh disana.

Posted in Semacam Sajak | Leave a comment

Taman Kota

5.22pm

“Aku menunggumu pada senja di ujung kota,” Pesanmu di ponsel dua tahun yang lalu masih saja aku simpan.
Rindu yang purba, ku larutkan dalam air hangat dan ku teguk hingga hilang dahaga yang panjang.
Di jariku, cincin bermata intan pemberianmu, tidak pernah aku lepaskan.

Ku ayun-ayunkan kaki di bale taman kota. Tempat ini tak berubah sejak kita tinggalkan dua tahun lalu. Masih banyak penjual minuman disekelilingnya. Penjual balon udara berwarna-warni, senja yang basah, dan tangisan anak-anak. Ingatanku berputar soal cerita usia remaja.
“Tidak pernah ada yang benar dan salah soal pemujaan. Berhala atau bukan. Terserah saja. Bukankah agama kita adalah kemanusiaan,” katamu.

5.32pm

***

Terima kasih pada teman di kantor yang memberiku 5 kata: senja, berhala, terserah, usia, intan.

Posted in Semacam Sajak | Leave a comment

Akar

Bagaimana kamu dilahirkan didalam kepalaku?

Aku memangkas tiap rimbun batang di tubuhku.
Mencari-cari di mana akar cerita kita
Yang tak sempat tercatat,
dalam buku catatan lusuh yang telah bertahun bersamaku

Aku sibuk mencari akar cerita kita
Yang tak sempat tercatat,
meski hanya dalam ingatan yang samar-samar.

Di damar senja, aku duduk di matamu yang berwarna cokelat
Menunggu kamu pulang
Sambil ku bersihkan lumut di tiap batang pohon tubuhku
Menunggu kamu pulang.

28 Agustus 2013

Posted in Semacam Sajak | Leave a comment

Rumah

Pagi yang romantis. Hujan tipis-tipis, lebat sebentar lalu berhenti. Kamu masih berdendang di nada-nada minor yang sama. Aku masih menulis puisi-puisi tentang kamu.

Kita bicara tentang gambar-gambar medioker yang kita lihat sepanjang perjalanan. Mengomentari satu-satu. Bahwa seni yang menarik dinikmati adalah gambar-gambar para medioker.

“Lihat gambar ini. Tak berusaha tampak sempurna dan berpura-pura peofesional. Jujur. Benar-benar milik para medioker,” katamu

Bubur hangat dengan kecap asin dan potongan cabai kesukaan kita selalu menjadi teman pagi hari. Aku mengunyah sambil melihatmu alismu yang rapi.

Kita bernegosiasi tentang rumah dan kamar. Masing-masing aku dan kamu sama-sama masih mencari. Tempat yang disebut dengan rumah. Hati yang disebut dengan rumah.

Lalu kita sama-sama tertegun dan heran mengapa kita masih saja terus mencari. Sedangkan kita terbiasa berpeluk nyaman, tidur dengan nyenyak sampai pagi datang, di dalam tempat yang disebut rumah. Entah apa lagi yang sebenarnya kita cari.

Waktu disimpang jalan. Kita sama-sama diam dan menulis. Menentukan arah. Mencari rumah. Menuju aku. Menuju Kamu.

Posted in Semacam Sajak | Leave a comment

Menuju Kamu

Sisa perasan lemon yang dirajang dalam air jahe mendidih semalam, hangatnya masih menjalar hingga ke hati. Bayangan tentang kamu yang menutup cerita hari-hari. Juga pagi yang dibuka dengan ingatan tentang kamu, adalah hal-hal yang mulai aku jadikan ritual. Aku sudah tak batuk-batuk lagi. Mungkin juga kenangan sudah luruh hancur bersama dengan batuk yang menyerah kalah dengan resep yang kamu anjurkan.

Ada seribu pecahan batu yang akan kususun jadi jalan setapak menuju kamu. Adakah kamu akan berpindah dari tempatmu sekarang? Aku tak punya cahaya untuk menyusuri malam yang gelap menuju kamu. Jangan pergi dulu. Biar ku buat cahaya dengan cara peninggalan. Menepuk-nepuk punggung batu. Menepuk-nepuk hatimu di depan pintu.

Posted in Semacam Sajak | 2 Comments

Menuju Aku

Aku belajar meremah kata-kata menjadi tak beraturan. Menjadi serbuk yang bisa ku seduh serupa kopi. Kita akan minum berdua. Merapikan rak buku. Aku ingin menyusunnya sesuai alfabet. Kau bilang kau ingin menyusun dari huruf Z berakhir di A. Ku iyakan saja.

Di sela-sela aku bilang, aku tak butuh lelaki gombal. Kau membalas, bahwa kau tak butuh perempuan tak setia.

Kita beringsut pada masa lalu yang kitapun lupa tentang apa. Tak ada lagi salah satu diantara kita yang mau mengingat detail kesakitan masa lalu.

Sekarang, katakan pada perahu-perahu, arah mana yang akan kau tuju. Aku?

Posted in Semacam Sajak | Leave a comment

Cermin

Kaca-kaca sudah pecah. Hingga tak ada lagi tempat bercermin.
Semua orang lahir menjadi pembohong. Untuk hatinya sendiri.

Posted in Semacam Sajak | Leave a comment
  • Follow me