Alismu

Aku menyulam kecintaan pada alismu yang hitam rapi
Membuat rumah, dan berteduh disana.

Posted in Semacam Sajak | Leave a comment

Kamu dan Perapian Tua

12.15 pm

Aku berputar-putar dalam lingkaran tentang kamu.

Siang yang hening. Lukisan warna langit yang ceria.
Apa lagi yang perlu disangsikan
perihal kebahagiaan?
Tidak ada.

Uh. Tapi hatimu berlapis salju!
Dingin dan beku.
Di langit yang seceria ini, Apa yang membuat senyummu kaku?
Ironi hari ini. Duh.

Di perapian tua,
Ku hangatkan cerita soal rumah di dalam gua.
Kamu mulai mendengarkan.
Aku membuat teh hangat.
Untuk menemani mengunyah lapisan hatimu yang kian renyah.
Menjadikannya darah yang royal bagi tubuhku.

12.28 pm

Terima kasih kepada Sanjaya Adi Putra, desainer paling tangkas di kantor, yang sudah memberiku 5 kata untuk menulis hari ini.
Royal, lingkaran, lapisan, renyah, ironi.

Posted in Semacam Sajak | Leave a comment

Taman Kota

5.22pm

“Aku menunggumu pada senja di ujung kota,” Pesanmu di ponsel dua tahun yang lalu masih saja aku simpan.
Rindu yang purba, ku larutkan dalam air hangat dan ku teguk hingga hilang dahaga yang panjang.
Di jariku, cincin bermata intan pemberianmu, tidak pernah aku lepaskan.

Ku ayun-ayunkan kaki di bale taman kota. Tempat ini tak berubah sejak kita tinggalkan dua tahun lalu. Masih banyak penjual minuman disekelilingnya. Penjual balon udara berwarna-warni, senja yang basah, dan tangisan anak-anak. Ingatanku berputar soal cerita usia remaja.
“Tidak pernah ada yang benar dan salah soal pemujaan. Berhala atau bukan. Terserah saja. Bukankah agama kita adalah kemanusiaan,” katamu.

5.32pm

***

Terima kasih pada teman di kantor yang memberiku 5 kata: senja, berhala, terserah, usia, intan.

Posted in Semacam Sajak | Leave a comment

Akar

Bagaimana kamu dilahirkan didalam kepalaku?

Aku memangkas tiap rimbun batang di tubuhku.
Mencari-cari di mana akar cerita kita
Yang tak sempat tercatat,
dalam buku catatan lusuh yang telah bertahun bersamaku

Aku sibuk mencari akar cerita kita
Yang tak sempat tercatat,
meski hanya dalam ingatan yang samar-samar.

Di damar senja, aku duduk di matamu yang berwarna cokelat
Menunggu kamu pulang
Sambil ku bersihkan lumut di tiap batang pohon tubuhku
Menunggu kamu pulang.

28 Agustus 2013

Posted in Semacam Sajak | Leave a comment

Meditasi

Apa yang perlu rumput laut cemburui
pada karang dibawah laut
yang telah lebih dulu tinggal?

Aku merapal namamu
dalam lingkaran tasbih
yang sunyi di dasar laut.

Beginikah jadi aku?
Cemburu pada keping masa lalu
tapi tetap bertahan di wajah yang melenggang datar.

Jika menyelam adalah meditasi, maka menyelami kamu adalah meditasi tertinggi yang pernah ku lakukan.

27 Agustus 2013

Posted in Semacam Sajak | 1 Comment

Rumah

Pagi yang romantis. Hujan tipis-tipis, lebat sebentar lalu berhenti. Kamu masih berdendang di nada-nada minor yang sama. Aku masih menulis puisi-puisi tentang kamu.

Kita bicara tentang gambar-gambar medioker yang kita lihat sepanjang perjalanan. Mengomentari satu-satu. Bahwa seni yang menarik dinikmati adalah gambar-gambar para medioker.

“Lihat gambar ini. Tak berusaha tampak sempurna dan berpura-pura peofesional. Jujur. Benar-benar milik para medioker,” katamu

Bubur hangat dengan kecap asin dan potongan cabai kesukaan kita selalu menjadi teman pagi hari. Aku mengunyah sambil melihatmu alismu yang rapi.

Kita bernegosiasi tentang rumah dan kamar. Masing-masing aku dan kamu sama-sama masih mencari. Tempat yang disebut dengan rumah. Hati yang disebut dengan rumah.

Lalu kita sama-sama tertegun dan heran mengapa kita masih saja terus mencari. Sedangkan kita terbiasa berpeluk nyaman, tidur dengan nyenyak sampai pagi datang, di dalam tempat yang disebut rumah. Entah apa lagi yang sebenarnya kita cari.

Waktu disimpang jalan. Kita sama-sama diam dan menulis. Menentukan arah. Mencari rumah. Menuju aku. Menuju Kamu.

Posted in Semacam Sajak | Leave a comment

Menuju Kamu

Sisa perasan lemon yang dirajang dalam air jahe mendidih semalam, hangatnya masih menjalar hingga ke hati. Bayangan tentang kamu yang menutup cerita hari-hari. Juga pagi yang dibuka dengan ingatan tentang kamu, adalah hal-hal yang mulai aku jadikan ritual. Aku sudah tak batuk-batuk lagi. Mungkin juga kenangan sudah luruh hancur bersama dengan batuk yang menyerah kalah dengan resep yang kamu anjurkan.

Ada seribu pecahan batu yang akan kususun jadi jalan setapak menuju kamu. Adakah kamu akan berpindah dari tempatmu sekarang? Aku tak punya cahaya untuk menyusuri malam yang gelap menuju kamu. Jangan pergi dulu. Biar ku buat cahaya dengan cara peninggalan. Menepuk-nepuk punggung batu. Menepuk-nepuk hatimu di depan pintu.

Posted in Semacam Sajak | 2 Comments

Menuju Aku

Aku belajar meremah kata-kata menjadi tak beraturan. Menjadi serbuk yang bisa ku seduh serupa kopi. Kita akan minum berdua. Merapikan rak buku. Aku ingin menyusunnya sesuai alfabet. Kau bilang kau ingin menyusun dari huruf Z berakhir di A. Ku iyakan saja.

Di sela-sela aku bilang, aku tak butuh lelaki gombal. Kau membalas, bahwa kau tak butuh perempuan tak setia.

Kita beringsut pada masa lalu yang kitapun lupa tentang apa. Tak ada lagi salah satu diantara kita yang mau mengingat detail kesakitan masa lalu.

Sekarang, katakan pada perahu-perahu, arah mana yang akan kau tuju. Aku?

Posted in Semacam Sajak | Leave a comment

Cermin

Kaca-kaca sudah pecah. Hingga tak ada lagi tempat bercermin.
Semua orang lahir menjadi pembohong. Untuk hatinya sendiri.

Posted in Semacam Sajak | Leave a comment

Kopi

Sebelum kau pergi, kita menghabiskan waktu berdua. Sudah sangat larut. Aku tahu kau hanya memiliki sisa waktu dua jam sebelum pergi ke bandara pukul tiga pagi. Tapi kita tak berhenti berpelukan. Jika sesekali berhenti, pun kita akan memulainya lagi. Melekat, bergerumul menjadi satu dengan udara malam yang panas.

“Yang tadi adalah ciuman ternikmat yang penah aku rasa! Iya kan?”
Hatiku seperti dipasangkan balon berwarna-warni.
“Iya,” aku mengangguk.
“Aku mau ambil air. Mau dibuatkan apa?”
“Aku mau kopi.”
“Serius kamu mau kopi jam segini?
“Iya.”

Itu adalah pertama kali aku meminta dibuatkan sesuatu dari kamu setelah lama mengenalmu. Sebelumnya aku hanya ikut tawaranmu. Aku tinggal menjawab iya untuk pertanyaan, ku buatkan teh jahe gula merah agar kau sembuh ya? Atau ku rebuskan air jahe ya? Sambil ku lempar senyum dan ucapan tata krama standar untuk kamu, terima kasih. Kemudian kau tertawa. Katamu aku terlalu mematuhi standar.

Aku menghirup kamu. Menghafal aromanya. Mengira-ngira bagaimana takarannya. Dua banding satu. Dua perempuan berebut kamu. Kopi pahit. Sepahit cinta kita di depan. Tapi itu adalah kopi terenak yang pernah ku minum.

Aku masih ingat kau yang tak bisa minum kopi. Katamu jantungmu seperti dipacu cepat hingga kau tak tenang. Solusimu selalu ajaib, makan cokelat atau bersepeda tiga putaran mengelilingi arteri jalan.

Pagi pukul 1 hari ini, aku mengenangmu dalam secangkir kopi pahit. Takarannya dua banding satu. Dua perempuan berebut kamu. Tapi kali ini dengan perempuan yang berlainan lagi.

Ah, kamu.

Posted in Semacam Sajak | 3 Comments
  • Follow me