Author Archives: IntanParamitha

Alismu

Aku menyulam kecintaan pada alismu yang hitam rapi Membuat rumah, dan berteduh disana.
Posted in Semacam Sajak | Leave a comment

Kamu dan Perapian Tua

12.15 pm Aku berputar-putar dalam lingkaran tentang kamu. Siang yang hening. Lukisan warna langit yang ceria. Apa lagi yang perlu disangsikan perihal kebahagiaan? Tidak ada. Uh. Tapi hatimu berlapis salju! Dingin dan beku. Di langit yang seceria ini, Apa yang membuat senyummu kaku? Ironi hari ini. Duh. Di perapian tua, Ku hangatkan cerita soal rumah […]
Posted in Semacam Sajak | Leave a comment

Taman Kota

5.22pm “Aku menunggumu pada senja di ujung kota,” Pesanmu di ponsel dua tahun yang lalu masih saja aku simpan. Rindu yang purba, ku larutkan dalam air hangat dan ku teguk hingga hilang dahaga yang panjang. Di jariku, cincin bermata intan pemberianmu, tidak pernah aku lepaskan. Ku ayun-ayunkan kaki di bale taman kota. Tempat ini tak […]
Posted in Semacam Sajak | Leave a comment

Akar

Bagaimana kamu dilahirkan didalam kepalaku? Aku memangkas tiap rimbun batang di tubuhku. Mencari-cari di mana akar cerita kita Yang tak sempat tercatat, dalam buku catatan lusuh yang telah bertahun bersamaku Aku sibuk mencari akar cerita kita Yang tak sempat tercatat, meski hanya dalam ingatan yang samar-samar. Di damar senja, aku duduk di matamu yang berwarna […]
Posted in Semacam Sajak | Leave a comment

Meditasi

Apa yang perlu rumput laut cemburui pada karang dibawah laut yang telah lebih dulu tinggal? Aku merapal namamu dalam lingkaran tasbih yang sunyi di dasar laut. Beginikah jadi aku? Cemburu pada keping masa lalu tapi tetap bertahan di wajah yang melenggang datar. Jika menyelam adalah meditasi, maka menyelami kamu adalah meditasi tertinggi yang pernah ku […]
Posted in Semacam Sajak | 1 Comment

Rumah

Pagi yang romantis. Hujan tipis-tipis, lebat sebentar lalu berhenti. Kamu masih berdendang di nada-nada minor yang sama. Aku masih menulis puisi-puisi tentang kamu. Kita bicara tentang gambar-gambar medioker yang kita lihat sepanjang perjalanan. Mengomentari satu-satu. Bahwa seni yang menarik dinikmati adalah gambar-gambar para medioker. “Lihat gambar ini. Tak berusaha tampak sempurna dan berpura-pura peofesional. Jujur. […]
Posted in Semacam Sajak | Leave a comment

Menuju Kamu

Sisa perasan lemon yang dirajang dalam air jahe mendidih semalam, hangatnya masih menjalar hingga ke hati. Bayangan tentang kamu yang menutup cerita hari-hari. Juga pagi yang dibuka dengan ingatan tentang kamu, adalah hal-hal yang mulai aku jadikan ritual. Aku sudah tak batuk-batuk lagi. Mungkin juga kenangan sudah luruh hancur bersama dengan batuk yang menyerah kalah […]
Posted in Semacam Sajak | 2 Comments

Menuju Aku

Aku belajar meremah kata-kata menjadi tak beraturan. Menjadi serbuk yang bisa ku seduh serupa kopi. Kita akan minum berdua. Merapikan rak buku. Aku ingin menyusunnya sesuai alfabet. Kau bilang kau ingin menyusun dari huruf Z berakhir di A. Ku iyakan saja. Di sela-sela aku bilang, aku tak butuh lelaki gombal. Kau membalas, bahwa kau tak […]
Posted in Semacam Sajak | Leave a comment

Cermin

Kaca-kaca sudah pecah. Hingga tak ada lagi tempat bercermin. Semua orang lahir menjadi pembohong. Untuk hatinya sendiri.
Posted in Semacam Sajak | Leave a comment

Kopi

Sebelum kau pergi, kita menghabiskan waktu berdua. Sudah sangat larut. Aku tahu kau hanya memiliki sisa waktu dua jam sebelum pergi ke bandara pukul tiga pagi. Tapi kita tak berhenti berpelukan. Jika sesekali berhenti, pun kita akan memulainya lagi. Melekat, bergerumul menjadi satu dengan udara malam yang panas. “Yang tadi adalah ciuman ternikmat yang penah […]
Posted in Semacam Sajak | 3 Comments
  • Follow me