Bawakan Aku, Perahu tanpa Prasangka

Aku ingin saat kau pulang nanti
Bawakan aku mainan masa kanak-kanak kita
Perahu kecil yang akan menyala
dengan minyak kelapa buatan nenek
Kemudian, naiklah ke perahu itu denganku

Nenekku pernah bilang,
Di depan laju perahu ada banyak hal yang bisa kita bicarakan
dan akan ada angin yang mendendang lagu tentang bahasa cinta
Saat kita berpeluk nanti

Maukah kau membelikanku di pasar trasdisional dekat dengan tempat tinggalmu sekarang?
Aku ingat nenekku yang berjualan di pasar tradisional
Anggap saja kau memberi rezeki juga untuk nenekku yang ringkih itu
Seperti tanda sayangmu padaku

Aku menunggu waktu saat aku bisa menikahi isi kepalamu
yang susah ditebak.
Mungkin saat di atas perahu nanti, semua cerita bisa kita ubah

Aku kadang pernah berharap
Kau menitipkan keluhanmu padaku
Bukan rayuanmu,
Seperti aku menitipkan keluhanku kepadamu.

Atau mungkin kau tidak ingin berbagi apapun denganku?
Ahh, sudahlah.
Aku tidak ingin berprasangka buruk padamu.

Kemudian hujan akan menghapus prasangka.
Berlomba untuk kembali pada kenangan indah
Hingga bisa kutitipkan bekas gincu bibirku, di bibirmu.

This entry was posted in Semacam Sajak. Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  • Follow me