Kopi

Sebelum kau pergi, kita menghabiskan waktu berdua. Sudah sangat larut. Aku tahu kau hanya memiliki sisa waktu dua jam sebelum pergi ke bandara pukul tiga pagi. Tapi kita tak berhenti berpelukan. Jika sesekali berhenti, pun kita akan memulainya lagi. Melekat, bergerumul menjadi satu dengan udara malam yang panas.

“Yang tadi adalah ciuman ternikmat yang penah aku rasa! Iya kan?”
Hatiku seperti dipasangkan balon berwarna-warni.
“Iya,” aku mengangguk.
“Aku mau ambil air. Mau dibuatkan apa?”
“Aku mau kopi.”
“Serius kamu mau kopi jam segini?
“Iya.”

Itu adalah pertama kali aku meminta dibuatkan sesuatu dari kamu setelah lama mengenalmu. Sebelumnya aku hanya ikut tawaranmu. Aku tinggal menjawab iya untuk pertanyaan, ku buatkan teh jahe gula merah agar kau sembuh ya? Atau ku rebuskan air jahe ya? Sambil ku lempar senyum dan ucapan tata krama standar untuk kamu, terima kasih. Kemudian kau tertawa. Katamu aku terlalu mematuhi standar.

Aku menghirup kamu. Menghafal aromanya. Mengira-ngira bagaimana takarannya. Dua banding satu. Dua perempuan berebut kamu. Kopi pahit. Sepahit cinta kita di depan. Tapi itu adalah kopi terenak yang pernah ku minum.

Aku masih ingat kau yang tak bisa minum kopi. Katamu jantungmu seperti dipacu cepat hingga kau tak tenang. Solusimu selalu ajaib, makan cokelat atau bersepeda tiga putaran mengelilingi arteri jalan.

Pagi pukul 1 hari ini, aku mengenangmu dalam secangkir kopi pahit. Takarannya dua banding satu. Dua perempuan berebut kamu. Tapi kali ini dengan perempuan yang berlainan lagi.

Ah, kamu.

This entry was posted in Semacam Sajak. Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

3 Comments

  1. Andi
    Posted January 24, 2013 at 1:16 pm | Permalink

    Kopi, sepahit apapun tetap lebih baik dari alkohol yang buat mabuk!

  2. Posted January 24, 2013 at 2:51 pm | Permalink

    Ajaib! Aku percaya minuman ini punya banyak cerita.
    Termasuk rasa pahit yang seharusnya dinikmati apa adanya.
    Jangan percaya kata-kataku. Haha

  3. Posted January 25, 2013 at 7:24 am | Permalink

    Aku membaca berkali kali untuk menghayati arti tulisan mu, bahasa tulisan mu mendekati sastrawan/penyair gitu. Sepertinya aku perlu mencoba nikmatnya kopi pahit ibarat cinta.

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  • Follow me