Mata Bulat Matahari

Kepada, Cahaya.

Telah kutitipkan rinduku, pada mata bulat matahari.
Telah sampaikah padamu?

1/

Aku tak pernah ingat bagaimana kita bertemu
Tapi aku menyukaimu
Bersorak paling keras, untuk sederet lagu-lagu biru
Yang tak sendu.

2/
Bunga-bunga akan mekar biasa pada musimnya.
Tak ada yang bisa memaksa.
Begitupun pertemuanku denganmu.
Tiba-tiba dan begitu saja.

3/
Kuputuskan menanam pohon di taman hati
Yang sebenarnya tak pernah terisi
Pada bait-bait puisi ini
Tangkaplah isi hati

4/
Hatiku bertato.
Namamu

5/
Bohong kalau aku tak ingin tahu
Siapa perempuan yang hidup dimasa lalumu
Tapi aku tak pernah cemburu

6/
Bahkan ketika kau mengatakan
“Aku mencintaimu karena menulis,”
Aku tahu itu kau tujukan untuk siapa.
Tapi aku tak pernah cemburu

7/
Kau bilang kau ingin seperti burung wallet
Bersetia pada satu
Dan merawat dalam padu
Aku, ingin menjadi pasanganmu yang kau maksud itu

8/
Kemudian aku menanak
Rindu paling tabah
Jika kelak
Kita berjauh jarak

9/
Kamu.
Bait puisi yang menjadi nyata.

(IntanParamitha)

Foto milik Gung WS ketika kami di Larantuka.

This entry was posted in Semacam Sajak. Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  • Follow me