Menuju Kamu

Sisa perasan lemon yang dirajang dalam air jahe mendidih semalam, hangatnya masih menjalar hingga ke hati. Bayangan tentang kamu yang menutup cerita hari-hari. Juga pagi yang dibuka dengan ingatan tentang kamu, adalah hal-hal yang mulai aku jadikan ritual. Aku sudah tak batuk-batuk lagi. Mungkin juga kenangan sudah luruh hancur bersama dengan batuk yang menyerah kalah dengan resep yang kamu anjurkan.

Ada seribu pecahan batu yang akan kususun jadi jalan setapak menuju kamu. Adakah kamu akan berpindah dari tempatmu sekarang? Aku tak punya cahaya untuk menyusuri malam yang gelap menuju kamu. Jangan pergi dulu. Biar ku buat cahaya dengan cara peninggalan. Menepuk-nepuk punggung batu. Menepuk-nepuk hatimu di depan pintu.

This entry was posted in Semacam Sajak. Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

2 Comments

  1. Posted February 20, 2013 at 12:48 am | Permalink

    Bahasa kamu sederhana dan cerkas Intan. Aku hanyut :))

Post a Reply to Milliyya

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  • Follow me