Bawakan Aku, Perahu tanpa Prasangka

Aku ingin saat kau pulang nanti
Bawakan aku mainan masa kanak-kanak kita
Perahu kecil yang akan menyala
dengan minyak kelapa buatan nenek
Kemudian, naiklah ke perahu itu denganku

Nenekku pernah bilang,
Di depan laju perahu ada banyak hal yang bisa kita bicarakan
dan akan ada angin yang mendendang lagu tentang bahasa cinta
Saat kita berpeluk nanti

Maukah kau membelikanku di pasar trasdisional dekat dengan tempat tinggalmu sekarang?
Aku ingat nenekku yang berjualan di pasar tradisional
Anggap saja kau memberi rezeki juga untuk nenekku yang ringkih itu
Seperti tanda sayangmu padaku

Aku menunggu waktu saat aku bisa menikahi isi kepalamu
yang susah ditebak.
Mungkin saat di atas perahu nanti, semua cerita bisa kita ubah

Aku kadang pernah berharap
Kau menitipkan keluhanmu padaku
Bukan rayuanmu,
Seperti aku menitipkan keluhanku kepadamu.

Atau mungkin kau tidak ingin berbagi apapun denganku?
Ahh, sudahlah.
Aku tidak ingin berprasangka buruk padamu.

Kemudian hujan akan menghapus prasangka.
Berlomba untuk kembali pada kenangan indah
Hingga bisa kutitipkan bekas gincu bibirku, di bibirmu.

Posted in Semacam Sajak | Leave a comment

Mata Bulat Matahari

Kepada, Cahaya.

Telah kutitipkan rinduku, pada mata bulat matahari.
Telah sampaikah padamu?

Read More »

Posted in Semacam Sajak | Leave a comment

Jebakan

Satu, dua, dan sekian terkungkung dalam definisi yang dibuat sendiri. Aku khawatir, aku turut di dalamnya. Aku memastikannya baik-baik. Dan tak ingin menjadi salah satunya. Tentang kriteria-kriteria yang kemudian jadi jebakan. Untuk menelannya busuk-busuk. Agar hidup disebut konsisten.

Di titik pemberhentian terakhir hari ini, aku menepi sejenak. Memberi jeda pada hati yang terlalu sibuk berlalu-lalang. Menggaris tebal-tebal pada kotak yang disebut prinsip hidup. Menelan label-label yang diberikan orang pada tubuh. Sungguh. Aku (ingin) berontak. Tentang orang yang lalu lalang dan orgasme pada label-label semu. Read More »

Posted in Semacam Sajak | Leave a comment

Surat Pertama untuk Kekasih

Kita merekam rindu yang kian subur. Menyesuaikan ritme yang sebenarnya sama.

Aku menyukai perjumpaan antara aku dan kamu. Lelaki, yang menungguku di ujung senja, dengan alun harmonika yang romantik. Read More »

Posted in Semacam Sajak | Leave a comment
  • Follow me