Rumah

Pagi yang romantis. Hujan tipis-tipis, lebat sebentar lalu berhenti. Kamu masih berdendang di nada-nada minor yang sama. Aku masih menulis puisi-puisi tentang kamu.

Kita bicara tentang gambar-gambar medioker yang kita lihat sepanjang perjalanan. Mengomentari satu-satu. Bahwa seni yang menarik dinikmati adalah gambar-gambar para medioker.

“Lihat gambar ini. Tak berusaha tampak sempurna dan berpura-pura peofesional. Jujur. Benar-benar milik para medioker,” katamu

Bubur hangat dengan kecap asin dan potongan cabai kesukaan kita selalu menjadi teman pagi hari. Aku mengunyah sambil melihatmu alismu yang rapi.

Kita bernegosiasi tentang rumah dan kamar. Masing-masing aku dan kamu sama-sama masih mencari. Tempat yang disebut dengan rumah. Hati yang disebut dengan rumah.

Lalu kita sama-sama tertegun dan heran mengapa kita masih saja terus mencari. Sedangkan kita terbiasa berpeluk nyaman, tidur dengan nyenyak sampai pagi datang, di dalam tempat yang disebut rumah. Entah apa lagi yang sebenarnya kita cari.

Waktu disimpang jalan. Kita sama-sama diam dan menulis. Menentukan arah. Mencari rumah. Menuju aku. Menuju Kamu.

This entry was posted in Semacam Sajak. Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  • Follow me