Surat Pertama untuk Kekasih

Kita merekam rindu yang kian subur. Menyesuaikan ritme yang sebenarnya sama.

Aku menyukai perjumpaan antara aku dan kamu. Lelaki, yang menungguku di ujung senja, dengan alun harmonika yang romantik.

Denganmu seberapa banyak puisi akan lahir di tapak-tapak hidup? Ah aku tak lagi peduli. Bagiku, kamu adalah puisi yang hidup mengelilingi setiap detik yang berdetak. Aku menyukai perjalanan denganmu, menikmati jika menghabiskan waktu denganmu.

Tapi malam terlalu cepat datang. Kemudian kita akan berpisah untuk waktu yang tak lama. Merekam rindu yang kian subur. Menyesuaikan ritme yang sebenarnya sama.

Pagi itu aku kembali menyeruput kopi. Kesukaanku. Pesan teks darimu masuk di ponselku. “Sudah minum kopi? Sarapan bareng?” Uh, rasanya ingin ku peluk kamu sekarang juga. Gelak tawa dalam obrolanmu adalah keajaiban yang membelalakan mata.

Aku selalu bisa mengiyakan semua ajakan-ajakanmu. Bukan karena aku menyukaimu penuh seluruh. Tapi ajakanmu, adalah hal-hal yang sejak dulu kuinginkan. Aku merasa kita adalah sebuah pecahan yang satu.

Aku tak pernah bisa menjawab arah hati yang begitu cepat berpaut denganmu. Tapi mereka terus saja memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan, mengapa aku membiarkanmu masuk dalam cerita-ceritaku. Entahlah. Kamu. Kamu seperti kopi. Dan kamu, kamu serupa perpaduan kopi dan gula yang pas dalam seleraku.

Tapi aku tak ingin kau benar-benar tahu tentang kecintaanku padamu.

(IntanParamitha)

This entry was posted in Semacam Sajak. Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  • Follow me