Taman Kota

5.22pm

“Aku menunggumu pada senja di ujung kota,” Pesanmu di ponsel dua tahun yang lalu masih saja aku simpan.
Rindu yang purba, ku larutkan dalam air hangat dan ku teguk hingga hilang dahaga yang panjang.
Di jariku, cincin bermata intan pemberianmu, tidak pernah aku lepaskan.

Ku ayun-ayunkan kaki di bale taman kota. Tempat ini tak berubah sejak kita tinggalkan dua tahun lalu. Masih banyak penjual minuman disekelilingnya. Penjual balon udara berwarna-warni, senja yang basah, dan tangisan anak-anak. Ingatanku berputar soal cerita usia remaja.
“Tidak pernah ada yang benar dan salah soal pemujaan. Berhala atau bukan. Terserah saja. Bukankah agama kita adalah kemanusiaan,” katamu.

5.32pm

***

Terima kasih pada teman di kantor yang memberiku 5 kata: senja, berhala, terserah, usia, intan.

This entry was posted in Semacam Sajak. Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  • Follow me